Cerita Umat Baha’i Urus KTP Terkendala Isi Kolom Agama

  • Share
Cerita Umat Baha'i Urus KTP Terkendala Isi Kolom Agama

Umat agama Baha’i menghadapi sejumlah halangan saat hendak mendapat kartu tanda penduduk (KTP). Salah satunya adalah saat mengisi kolom agama di KTP.

Anggota Kantor Hubungan Masyarakat dan Pemerintahan Majelis Rohani Nasional Baha’i Indonesia, Rina Chua Leena mengatakan orang-orang Baha’i tak bisa mengakui agamanya sendiri dalam KTP. Hal itu disebabkan Baha’i tak masuk kategori agama yang diakui oleh negara.

“Sebelum adanya UU Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan, umumnya Baha’i terpaksa memilih salah satu agama untuk diisi dalam KTP,” kata Rina kepada CNNIndonesia.com, Sabtu (3/8).

Rina menyampaikan umat Baha’i mendapat sedikit kebebasan saat Undang-Undang Administrasi Kependudukan diteken. Mereka tak lagi harus mengaku sebagai umat agama lain di KTP.

Baca Juga :   Orang Meninggal Masih Bisa Lihat dan Dengarkan Gerakan Kita?

Salah satu kebebasan yang dimaksud, kata Rina, umat Baha’i bisa mengosongkan kolom agama di KTP. Pasal 64 ayat (5) UU Administrasi Kependudukan memperbolehkan penghayat kepercayaan atau pemeluk agama yang belum diakui negara untuk mengosongkan kolom KTP.

Meski begitu, kebebasan itu tak dirasakan dalam waktu lama. Umat Baha’i terpaksa mengisi kolom KTP dengan tulisan “penghayat kepercayaan” sejak putusan Mahkamah Konstitusi No. 97/PUU-XIV/2016.

Saat itu, MK mengabulkan gugatan penghayat kepercayaan atas pasal-pasal soal kolom agama di UU Administrasi Kependudukan. MK menyatakan aturan soal pengosongan kolom agama tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat secara bersyarat, sepanjang tidak termasuk “kepercayaan”.

Putusan itu berkah bagi penghayat kepercayaan karena diakui negara lewat dokumen kependudukan. Namun, Rina menilai putusan itu seharusnya tidak memaksa agama yang belum diakui untuk menulis “kepercayaan” di kolom agama.

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *