Menelusuri Kutipan Soekarno ‘Lebih Suka Pemuda Ngopi daripada Kutu Buku’ yang Tak Jelas Dari Mana

“Saya jadi ingat pesan Bung Karno tentang pentingnya menjaga kehidupan sosial. Menurut Bung Karno, ‘Pemuda yang kumpul-kumpul sambil diskusi tentang bangsa dan negara, itu jauh lebih baik dibanding pemuda kutu buku yang hanya memikirkan diri sendiri.’”

Demikian wejangan yang disampaikan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo yang tayang di kanal YouTubenya berjudul Ruang Ganjar: Jihad Sosmed Melawan Teror. Sepintas tiada yang salah dengan mengutip ucapan Bung Karno. Namun kutipan ini menarik karena banyak diragukan, apakah benar Bung Karno pernah mengatakan atau menggores pena tentang itu?

Kita tahu, Putra sang Fajar dalam tiap kesempatan selalu bangga menyebut dirinya sebagai pecinta: seni, wanita, dan buku. Video itu diunggah Ganjar Pranowo pada 19 April telah ditonton lebih dari 100 ribu orang. Di dalam videonya, Ganjar banyak membahas mengenai bentuk-bentuk teror model baru dan indahnya toleransi.

Demi menguatkan narasi, Ganjar mengutip tiga tokoh nasional: Mustofa Bisri (Gus Mus), Buya Syafii Ma’arif, dan Bung Karno. Tapi cuplikan Ganjar mengutip Bung Karno yang banyak seliweran di media sosial. Ucapan ganjar seolah-olah membenarkan Bung Karno pernah berucap itu. Ganjar bukan satu-satunya.

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), yang dipimpin Megawati Soekarnoputri, anak Bung Karno juga sempat mengutip kata-kata terkait rokok, kopi, dan diskusi di media sosialnya. Padahal tidak ada sumber valid yang mengungkap kata tersebut benar terucap dari Bung Karno.


Lagipula ucapan itu tidak ada dalam pidato, wawancara ataupun buku-buku yang memuat kisah hidup Bung Karno. Penelusuran soal darimana kutipan itu berasal mengarah ke unggahan Instagram @Hexogram yang dipublikasi pada 17 Agustus 2020.


Kalaupun ada ketidaksukaan Bung Karno pada pembaca buku atau kutu buku, itupun kepada mereka yang menelan mentah-mentah teori dalam buku. Kritik itu bahkan diberikan Bung Karno kepada teman seperjuangannya, Bung Hatta. Bukan secara umum pada pemuda.

Hatta yang lulusan Fakultas Ekonomi di Rotterdam cara pikirnya terlalu kaku di mata Bung Karno. Pemikirannya sering membawa narasi menurut buku-buku dan belum dapat diubah ke dalam hal yang lebih mudah dicerna. Semisal soal pandangannya untuk memompa semangat revolusi.

“Dengan cara Bung Karno, partai tidak akan bisa stabil, Hatta mengemukakan, seorang yang berlainan sama sekali denganku dalam sifat dan pembawaan. Bung Hatta adalah seorang ahli ekonomi dalam segi dagang dan pembawaannya. Saksama, tidak dipengaruhi oleh perasaan, pedantik.”

Soekarno (Sumber: Wikimedia Commons)

Seorang lulusan Fakultas Ekonomi di Rotterdam, cara berpikirnya masih saja menurut buku‐buku, mencoba menerapkan rumus‐rumus ilmiah yang tidak dapat dirubah ke dalam suatu revolusi,”ungkap Bung Karno sebagaimana yang ditulis Cindy Adams dalam otobiografinya Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1964).

Response (1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *