“Kasus mana yang harus diprioritaskan? Siapa yang kritis dan siapa yang buruk? Ini bukan situasi yang pernah kita hadapi dalam karier kita,” kata Dr Rajendra Prasad, ahli bedah saraf dan tulang belakang di Rumah Sakit Indraprastha Apollo di Delhi.
Dia adalah salah satu dari banyak spesialis dan ahli bedah di negara saat ini yang harus dengan cepat menguasai pendekatan multidisiplin yang dituntut oleh pandemi.
Kepala perawatan kritis di rumah sakit Artemis di Gurgaon, Dr Reshma Tewari yang bekerja di rumah sakit tentara pada tahun 1999, ketika India melawan Pakistan di Kashmir, menggambarkan bahwa situasi saat ini seperti sedang dalam perang.
Setiap pagi, dia dan dokter lainnya melakukan pemeriksaan oksigen untuk memastikan pasokan yang cukup.
“Saya bukan orang yang mudah depresi. Tapi saya merasa sedih. Saya bisa bertarung di satu front, tetapi sulit untuk bertarung di dua front,” ucap Tewari.
Para ahli mengatakan, lebih banyak pasien menunjukkan gejala sesak napas dan saturasi oksigen yang turun dengan cepat dibandingkan gelombang pertama.
Sebagian besar rumah sakit pun terpaksa menerima pasien dengan gejala dan penyakit penyerta yang parah. Lainnya terpaksa dipulangkan.
Kendati demikian, rumah sakit tetap tidak mampu menampung pasien prioritas.
“Kami telah kehilangan semua rasa proporsional dan keseimbangan, harus menolak pasien yang kami tahu sakit kritis, dan tidak akan berhasil tanpa akses ke rumah sakit,” kata Dr Vivek Shenoy, seorang ahli intensif senior di Rumah Sakit Rajshekhar Bangalore.
Institusinya hanya memiliki 25 tempat tidur perawatan kritis, dan setiap pasien kritis tinggal rata-rata selama 10 hari.
Pencatatan kematian
Seorang dokter berusia 26 tahun di Chennai, yang tidak ingin disebutkan namanya, ke bangsal Covid-19 segera setelah dia lulus ujian pascasarjana.
Ia mengatakan bahwa dia siap sedia menghadapi tantangan medis dan peralatan di bangsal ini, tetapi tidak masalah politik.
Kepala administrasi rumah sakitnya telah menginstruksikan semua staf untuk menerima orang dengan gangguan pernapasan akut, tetapi tanpa hasil tes Covid-19 ke bangsal non-Covid-19.
Katanya, ini untuk menunjukkan lebih sedikit kematian akibat Covid.
“Jika seorang pasien meninggal karena pneumonia bronkial atau kegagalan pernapasan, idealnya kami harus menganggapnya sebagai kematian akibat Covid-19, tetapi ini tidak dilakukan,” tuturnya.
Dalam banyak hal, protokol kesehatan telah membuat mereka terisolasi seperti pasien yang mereka rawat.
Seorang dokter umum di salah satu rumah sakit negara terbesar di Chennai, mengenang pasangan lansia yang dirawat di blok Covid-19.
Sang istri, 65 tahun, berada di unit perawatan kritis dan suaminya, 70 tahun, di bangsal reguler Covid-19.
Dokter itu mengaku setiap hari berkeliling dan lelaki tua itu akan memohon untuk bertemu istrinya.
Dia biasanya tidak mengizinkan siapa pun ke ICU Covid, tetapi dia mendapat izin dan membawanya dengan kursi roda ke jendela ICU.
“Dia akan mengawasinya selama beberapa jam setiap hari. Suatu hari, ketika dia menjadi lebih buruk, dia putus asa, mengatakan bahwa dia adalah satu-satunya keluarganya,” ungkapnya.
Kisah itu nampaknya berakhir tragis. Namun keajaiban terjadi. Pasangan itu pulih.
Bagi dokter yang tak ingin disebut namanya ini, kejadian itu memberi harapan di tengah trauma yang tak berkesudahan.
Artikel asli : kompas.com